Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 13 Februari 2014

Pemilu 2014: Pendekatan Personalitas Politik atau Pendekatan Pemasaran Politik ?

oleh Angela Shinta Puspitasari (EAK 2013)

Negara Indonesia patut berbangga dan bersyukur. Sebab sejak 1955, demokrasi 'pernah' berjalan dengan baik. Meskipun pelaksanaan pemilu saat itu terbilang baru dan riskan masalah, namun kerja sama antar Kabinet Ali Sastroamijoyo dan Kabinet Burhanuddin Harahap dapat dikatakan sukses. Sebanyak 172 partai turut aktif dalam proses pemilihan saat itu. 10 tahun pasca kemerdekaan tidak membuat Indonesia takut melakukan gerakan penguatan internal. Pada masa itu, meski dalam kondisi infrastruktur yang minim, masyarakat masih memiliki sense of belonging yang tinggi terhadap bangsanya karena semangat kemerdekaan masih berakar kuat dalam jiwa dan raga mereka. Hal itulah yang memberikan dampak positif bagi pemilihan umum pada tahun 1995. Pemilu berlangsung secara demokratis, fair, sehat, dan adil.

Pemilu 2014 kini sudah ada di depan mata. Ratusan bahkan ribuan spanduk maupun flyer partai menggeliat di seluruh sudut ibukota. Bahkan kini desa pun menjadi sasaran empuk para kandidat untuk melancarkan aksi pencitraan diri mereka. Stereotip negatif bahwa masyarakat desa cenderung memiliki pengetahuan yang minim kerap kali membuat mereka sering kali dijadikan sebagai sasaran objek. Sebelum April 2014 ini semua kandidat semakin gencar melakukan pencitraan diri. Mulai dari mengikuti konvensi, dialog, bahkan debat di berbagai universitas dan beberapa stasiun televisi swasta. Kampanye langsung di hadapan ribuan masyarakat juga menjadi salah satu cara yang dipilih guna menggalang banyak suara. Bahkan ketua umum partai yang karirnya saat ini dibilang akan hancur saat pemilu 2014 akibat karakter koruptor yang melekat di tubuh partai ini, sudah menyiapkan jadwal cuti untuk aksi kampanye tahun 2014 ini (SindoNews.com, 2/4/2013).

Kesuksesan kampanye sebuah kandidat diperlukan modal besar tidak hanya dari segi materiil tetapi juga immateriil seperti performa ketika di lapangan. Mengorbankan waktu untuk masyarakat seperti turun langsung atau 'blusukan' merupakan senjata ampuh untuk menarik simpati masyarakat. Saat ini blusukan sudah tidak lagi menjadi khas Jokowi, salah satu calon yang rencananya akan didapuk sebagai calon presiden PDI-P. Sebab Golkar bahkan mewajibkan kader-kadernya untuk mengadakan blusukan ke masyarakat guna mengambil hati rakyat (poskotanews.com, 19/12/2013). Istilah 'turba' alias turun ke bawah pun dibuat Partai Demokrat seakan tidak mau kalah dengan blusukan, dengan bentuk yang dapat dibilang sama saja. Latah bukan?

Paparan singkat penulis di atas membuat kesimpulan bahwa dalam pemilu kali ini terdapat 2 pilihan pendekatan yakni Pendekatan Personalitas Politik atau Pendekatan Pemasaran Politik. Pendekatan Personalitas Politik (Personal Politic Approach) adalah pendekatan di mana kandidat memberikan citra yang paling berkharisma dan menggugah hati masyarakat untuk akhirnya menjatuhkan pilihan pada kandidat tersebut. Sedangkan, pendekatan pemasaran politik (Marketing Politics Approach ) memberikan konsep untuk memudahkan bagaimana partai, kandidat dan program politik ditawarkan sebagaimana menawarkan produk komersial (Cangara: 2009).

Pendekatan Personalitas Politik
Pendekatan Personalitas Politik diibaratkan sebuah akar pohon yang terus menuju bawah bumi akibat adanya gravitasi bumi, sama seperti kandidat yang menggunakan pendekatan ini. Para kandidat terus menerus turun ke bawah melihat akar masalah yang terjadi di masyarakat. Bukan merasakan adanya gravitasi bumi, melainkan merasakan ‘jerit tangis’ masyarakat bawah. Mereka diharapkan tidak hanya sekedar melihat melainkan mengambil tindakan nyata, cepat, dan sigap terhadap kondisi rakyat. Di samping itu, kinerja para calon kandidat haruslah sesuai harapan masyarakat. Akibat informasi dan teknologi yang masuk ke Indonesia semakin hari semakin banyak dan canggih, masyarakat tidak terlalu bodoh ketika mereka disodorkan para calon kandidat yang terkesan karbitan. Masyarakat akan tahu mana para kandidat yang memberikan pengaruh baik di masyarakat hanya untuk mengambil simpati masyarakat. 

Hendaknya, dalam pendekatan ini para pemimpin melakukan secara bertahap dan kontinyu. Memberikan bukti-bukti nyata selama proses pemilihan umum misalnya 2 tahun sebelum Pemilu 2014 ini, partai-partai mengambil hati masyarakat melalui para kader partainya atau bahkan mencari bibit-bibit kader yang nantinya akan “menjual” nama partai. Sebenarnya, semua partai mempunyai kesempatan hanya saja ambillah momentum yang tepat untuk itu. 

Tragedi Blusukan dapat diambil sebagai contoh. Momentum terdaftarnya Jokowi dan Ahok sebagai calon gubernur Jakarta kemudian menarik perhatian PDI-P dan Gerindra sebagai pasangan kader yang memiliki prospek besar. Kedua Partai tersebut melihat peluang besar dan menjadikan pasangan tersebut layaknya permata. Performa dan kinerja mereka yang luar biasa ketika masih bertugas di Solo dan Bangka Belitung membuat pandangan masyarakat Jakarta bahkan Indonesia teralihkan sementara kepada dua insan tersebut. Tidak berlebihan jika pemimpin berkharisma dan memiliki integritas lebih dikenal dan dipilih masyarakat. 

Partai Demokrat sebenarnya memiliki kesempatan dan peluang yang lebih besar dibanding kedua partai tersebut. Dengan terpilihnya SBY sebagai presiden, tentunya diharapkan Partai Demokrat memberikan hasil-hasil yang memuaskan masyarakat, meningkatkan kepercayaan publik, dan memunculkan potensi pemimpin dalam Partai Demokrat. Namun sayangnya, sinyal akan momentum selama lima tahun terakhir ini tidak berhasil ditangkap oleh Partai Demokrat. Para koruptor hasil dari tubuh Demokrat semakin bertambah. Belum ada kader dengan personality yang baik dan berkharisma di partai ini. Dan berakibat sebaliknya, lima tahun terakhir bagai batu sandungan bagi partai ini.

Pendekatan Pemasaran Politik
Membahas mengenai pendekatan pemasaran politik, penulis langsung teringat dengan unsur 4P dalam manajemen; Product, Price, Place, dan Promotion. Partai yang ikut dalam pemilihan umum tahun 2014 ini, ternyata dapat disamakan dengan sebuah produk. Untuk mendongkrak hasil penjualan pun diperlukan 4P ini, sama seperti partai yang perlu mengemas partai nya menjadi partai yang di minati oleh masyarakat. Mengemas produk berarti di setiap partai harus menemukan, menyeleksi, dan mencari solusi agar memunculkan kandidat yang dicari masyarakat. Memiliki visi misi yang kuat, berasal dari latar belakang keluarga yang demokratis, memiliki latar belakang aktivitas dan pengalaman politik, dan banyaknya pemecahan studi kasus oleh kandidat ketika sedang ditempa oleh isu-isu yang berkaitan dengan tugas politik mereka. Hal inilah yang akan menjadi modal utama seorang kandidat menjadi produk yang laku di masyarakat. 

Harga sebuah produk dalam partai politik akan terlihat jelas dalam setiap hasil suara yang didapat. Semakin banyak suara yang masuk memilih partai tersebut berarti semakin mahal sebuah partai dihargai dan mendapat tempat di hati rakyat. 

Untuk place, partai harus mampu menempatkan segmen di mana mereka akan melancarkan aksinya. Apakah akan mengambil segmen berdasarkan gender, agama, atau budaya. Seperti yang kita ketahui populasi kaum perempuan di Indonesia lebih banyak dibandingkan dengan yang laki-laki. Apakah partai akan lebih menyasar pada gender tertentu ataukah keduanya. Pemilihan kecenderungan terhadap agama tertentu juga berpengaruh terhadap penggalangan suara yang didapat. Meskipun penduduk Indonesia mayoritas beragam Islam, pilihan masyarakat Indonesia tetap dua, partai dengan dasar inklusif dan pluralis atau partai ekslusif sesuai dengan agama mereka. 

 "Grup VIVAnews (TV One dan ANTV) dikuasai oleh Aburizal Bakrie (Golkar), 
Grup MNC (RCTI, MNC TV, dan Global TV) dikuasai oleh Hary Tanoe (Hanura), dan 
Metro TV dikuasai oleh Surya Paloh (Nasdem)"

Berbicara mengenai promotion, tentu banyak yang tidak kaget dengan kalimat di atas. Sudah menjadi rahasia umum para kandidat gencar melakukan kampanye lewat stasiun televisi yang dimilikinya. Pencitraan diri yang dipakai nampaknya sedikit ampuh untuk membuat masyarakat mencari tahu lebih dalam siapa tokoh yang sebenarnya ada di layar kaca. Promosi melalui berbagai media terutama televisi sangat efektif. Bagaimana tidak, menurut Nielsen Newsletter, jumlah penonton televisi rata-rata 13,4 juta penduduk (usia 5 tahun ke atas di 10 kota besar di Indonesia). Ini suatu bentuk strategi politik yang cerdas. 

Dua pendekatan tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pengeluaran biaya yang tidak sedikit dalam politik sudah pasti hal yang lumrah terjadi. Hanya tinggal bagaimana kesan yang ingin kandidat dapatkan dari masyarakat. Semua tergantung dengan pendekatan yang ingin kandidat ambil. ‘Personality approach’ yang memakan waktu lama dan lebih mahal namun mendapatkan hati di masyarakat atau ‘marketing approach’ yang dilakukan hanya ketika kampanye berlangsung, biaya yang lebih sedikit, dan hanya memberikan kesan “siapa orang ini”? Ataukah malah keduanya? Biarkan seleksi alam yang bekerja.

Senin, 03 Februari 2014

WELCOME BACK! Wuhuuuw!

Selamat Malam Guys!


Gila udah tepat kali 2 TAHUN gue enggak menyentuh sama sekali blog gue, bukan karena gue sibuk atau apa tapi karena emang gue... sibuk. :) hahaha oke Guys. begitu banyak hal yang terlewatkan selama gue tinggal. Apa aja sih? Banyak.
Kisah perjuangan gue masuk PTN
(sampai akhirnya masuk ke universitas yang "katanya" nomor 1 di Indonesia)
Kisah gue selama di ospek
Kisah gue survive di setiap mata kuliah fakultas gue
Organisasi gue.
Idola gue.
and the last but not least
my new hobby
duh banyak deh yang gue pengen ceritain :D

Mungkin gue kalau mulai menceritakan dari yang paling atas, udah biasa yekan? Nah kali ini gue akan bahas  satu persatu dari yang urutannya paling bawah.

So keep stay tune in my blog!


Enjoy Reading!
And don"t forget to follow my twitter @shintangel
mention for folback :)

Sabtu, 25 Agustus 2012

TIPS MOVE ON POSITIF ala Shinta

haiiii BLOGGERS sejati,
udah lama gue gak main ni blogger,
So kali ini, gue mau kasih TIPS MOVE ON POSITIF nih
check this out!!!!


TIPS MOVE ON POSITIF :
1. Kalau orang banyak bilang, jangan pernah nge stalk in media sosial mantan lu, kali ini gue berani bilang SALAH. Yaaa mungkin lu bakal kesel ketika melihat mereka udah bisa move on duluan dari kita atau bahkan dia lebih sukses ketika tidak bersama lu lagi TAPIIIIIII ada 1 hal yang gue pelajari di sini *oke gue buka di sini* Jangan mau kalah,sob! EGOIS sama diri lu bahwa lu BISA LEBIH dari dia. Misalnya dia bisa move on duluan, dengan cari pacar lain, lu bisa move on dengan cara lain kok. Kayak aktif di kerjaan lu, bersama sama temen temen lu atau di studi lu. Atau misalnya, dia bisa lebih sukses dari lu, lu tunjukkin kalo juga bisa lebih dari dia. Dengan ini, lu bakal LEBIH MAJU, sob! Bukan tidak mungkin tanpa sepengetahuan lu, mantan lu malah ngestalk lo, haha seneng kan?? :D Dan bahkan bisa jadi dia menyesalkan hubungan kalian yang pernah kandas dulu :)

2. Ketika lu ditanya sama temen temen lu atau keluarga lu atau siapapapun itu, apa penyebab lu putus. Jangan sekali kali menjelek-jelekan dia. Jangan pernah nyesel pernah jadian sama dia. Jangan marah-marah ataupun kesel sama mantan lo di depan temen-temen lo. JUSTRU, ketika lo ditanya, jawablah yang baik-baik tentang mantan lo, mungkin dia dewasa, mungkin dia do the best waktu berhubungan sama lo, mungkin dia perhatian (yaaa walaupun perhatiannya pas awal awal ajaa). Bahkan lo bisa bilang, "Gue bersyukur pernah sama dia, banyak hal yang gue pelajarin tetang kehidupan, kelemahan kelemahan gue, banyak yang gue dapet" Jangan pernah benci sama mantan lo, guyz. Seberapa pun busuknya dia. Atau seberapun baiiiiiiiiiiknyaaa dia #kode :)
Pasti lo semua pada tanya, "Gunanya apa???? Buat apa? Lagian dia udah nyia nyia in gue, mutusin gue, ngebuang gue." Calm down, galz and boyz! Ini semua akan membuat lu menerima keadaan, sakit hati lu berkurang. Kalo istilah resminya Penyembuhan Luka Batin. Ini menunjukkan lo udah Do The Best dalam hubungan lu sama dia, walaupun dia gak tau lo ngelakuin itu, tapi percayalah, semua hal kecil lu lakukan dengan terbaik, Dia yang Maha Kuasa akan kasih yang lebih baik dari mantan lo :)

Mungkin tips ini efeknya agak lama, mungkin bisa setahun kaya gue *eh hahaha ga langsung dapet pacar  pengganti setelah putus dari mantan lo, gak bikin lo mati kok ! :D Slow but sure. Ini bakal ngajarin lu buat menerima keadaan. Dewasa butuh proses Sob! hehe Yahhhh untuk saat ini 2 tips dulu yaaa, karena memang gue cuma punya 2 *eh hahaha masing masing 1 pelajaran yang gue petik :p

So, mungkin lain kali gue akan tambahin setelah gue dapet pelajaran lagi mungkin tahun depan dan sekarang gue berani bilang

To Be Continue..


Senin, 07 November 2011

Gue Salah Pilih Narasumber

Oke cerita kali ini gue bakal menceritakan hal yang gue juga gatau ini cerita jenis apa entah lucu ataupun malah sukses bikin malu gue. Sebelumnya gue minta maaf buat para tokoh yang gue sebutkan di bawah. Terutama tokoh utama yang berperan bareng gue yaitu Frater Gahol-sebutan gue dan temen-temen gue di Badik (semacem organisasi keagamaan tingkat SLTA se-Jabodetabek) - 


hahaha sebenernya sih ada lagi sebutan buat beliau (lebih tepatnya sih sebutan dari Ka Cia sama Ka Anna, inget bukan sebutan dari gue!); Frater G*****g, yahhh tapi karena terlalu bagus dan takut bikin beliau terbang ke langit ke tujuh maka kita sebut saja beliau Frater Gahol (FG) hahaha sama aja yaaa.

Cerita ini berawal ketika gue ikut acara seminar diklat jurnalistik di Civita Youth Camp ( http://www.civitayouthcamp.co.nr/ ) selama 3 hari 2 malem. Dan di situ kita bener-bener di suruh yang namanya terjun langsung ke dunia jurnalistik salah satunya ya itu mewawancarai narasumber siapapun itu dan menuangkannya ke dalam cangkir(baca=karangan feature).

Mau preman kek, tukang siomay kek, romo, bahkan suster sekalipun. Akhirnya  gue putusin  cari yang gampang-gampang aja. Frater (lha? ga ada di pilihan semua). Engga, sebenarnya gue tuh mau wawancarain si Romo Heri barengan sama temen gue Novel cuma karena pas gue mau wawancarain, beliau lagi makan.

So, gue tunggu dia di depan susteran. Beberapa detik kemudian datenglah seorang laki-laki berbadan tegap, harum; mungkin pake deodorant merek Bellagio dan wanginya kalo ga salah “Stamina”. Wuih keren! Dan suer itu wanginya persis 99%, 1% nya sampling error lah yaa dan lucunya gue ketemuin itu deodorant di toko oposisinya Alfamart.
Yah kalian tau lah maksud gue toko apa. Kebetulan gue di situ lagi nyari parfum axe coklat, yang nyatanya itu parfum cowo sementara gue sebagai pemakai adalah makhluk Tuhan yang paling cantik :)

Yaahh gue afal wanginya, bukannya gue naksir apa bagemana. Wong, dalam radius 100meter aja tuh parfum udah kecium-gue bikin lebay ahhh- hahahaha yah sebelum kalian bingung sama gue yang ga konsisten mau ceritain deodorant atau parfumnya FG , terima aja lah yaa, orang tinggal baca aja kok protes.


Wahhh udah OT nih ot op de topik alias out of the topic. Ok. Back to the topic. Kemudian FG ini keluar dari susteran dengan memasang tampang muka ingin, bukan ingin di bully (yang lagi ngetrend di kalangan anggota LCC provinsi Banten-termasuk gue-) tapi ingin diwawancarai. Yaudah lah ya, jajal aja. Akhirnya gue salaman dan memperkenalkan diri gue dan langsung gue wawancarain tanpa basa-basi. Eh FG protes
“Oh ini gak pake basa-basi dulu nih?” katanya sambil senyum-senyum. 
“Engga frater  langsung aja.” Gimana gue mau pake basa-basi. Orang  tadinya gue mau wawancarain romo, mana gue ada persiapan.

Yaudah lah yaa, gue lanjutin pertanyaan demi pertanyaan. 1 detik berlalu. 1 menit berlalu. 1 jam berlalu. Banyak sih yang diceritain. Tapi kebanyakan off the record nya. Yahh apa yang mau dijadiin bahan cangkir(baca=karangan feature). Pas gue mau klinik sama Pak Wied Harry-yang katanya Ka Anna (kakanya gue versi Ka Bacon) “Seneng kali yak kalo udah gede punya suami kaya dia” Padahal gue tau tuh dia cuma lagi berusaha tegar dari …  #ehh- bilang gue kurang bahan.

So, gue di suruh wawancarain FG lagi. Alhasil, gue menghabiskan waktu setengah jam untuk wawancara tambahan. Dan cangkir gue ??? Masih kosong!!! Watdehel. Sementara temen-temen gue udah adanya yang nyampe cangkir kedua. Cobaaa -___- teng teng teng teng teng teng teng teng teng.

Jam 9! Wow gue panik. Cangkir gue kosong banget. 1 jam aja baru 3/4 cangkir keisi. Mana si Sisi ketua pelaksana udah ngompor-ngomporin gue buat ngumpulin tuh cangkir lagi. Aduh udah panik setengah meninggal gue, tok tok amit-amit. Yaudah dengan mengandalkan ingetan gue, gue tancap aja ceritanya. SKS, bukan Sistem Kredit Semester ya, tapi Sistem Kebut Semalem gue lancarkan.

Gue lakukan serangan gerilya. Dan ZONKKKK!  Kalian tau apa yang terjadi?? Tulisan gue diperiksa sama FG sendiri gara-gara Pak Wied hari Minggunya udah ada schedule syuting lagi so dia meninggalkan gue dan cangkir gue kepada FG pada hari kedua.

JEGERR! Gue berasa dilindes truk tronton, di injek sama raksasa, ditindih palu dengan berat 5000 ton, gila malu banget gue. Itu cangkir gue bikin asal-asalan banget. Hasilnya? Yah cangkir gue teteup yang paling bagus sih. Gimana ga bagus. Cangkir gue yang isinya 2 halaman, tiap barisnya gak ada tuh yang luput dari tinta emas birunya (?) bagemana tuh udah emas, biru lagi hahhh. Lanjuuut. Sehabis anak Badik nyelesein hari ketiga dan dikasih sertifikat gue masih aja dikenakan celetukan oleh target wawancara gue pertama kali. Kalian masih inget siapa? Yaa, Romo H.
“Ini dia yang sampe malem masih sibuk wawancara.”

Bete melanda seluruh diri gue. Lemes. Males. Grrr.. Ahh. Rasanya gue pengen kabur dari dunia ini. Ditambah celotehan-celotehan temen-temen sekamar gue about FG dan gue. Yahh, kalian ga perlu tau lah ya. Cuma gue, temen sekamar gue, dan Tuhan yang tau. Yang jelas, mereka men “cie cieeeee” in gue. 
Malu? 
Gondok? 
Jawabannya IYA. 

Ditambah pas lagi ngebahas kesalahan-kesalahan tiap cangkir, gue yang paling banyak kena getahnya. Dalam hati gue coba menghibur diri gue,

"selamat ya Shinta cangkir lu paling diperhatiin" 

Gubrakk, selamat apanya? Sekarang, gue masih punya tugas ngebenerin cangkir gue.

Soalnya cangkir kita anak Badik ini akan dijadikan satu bundle dalam bentuk paket (baca=buku). Dan gue belom ngebenerin sama sekali cankir gue tentang FG. Tenggat waktunya sampe 20 November ini udah plus plus diperiksa sama pembicara yaitu Ibu Della Pradipta atau Ibu Anges Usindi atau FG. 

Yah, khusus punya gue, udah pasti gue gak bisa konsul sama ibu Della ataupun Ibu Agnes udah bakal ditolak mentah mentah dan menyuruh gue menyerahkannya kepada FG sebagai pembicara pengganti Pak Wied plus narasumber buat cangkir gue. Bukannya males atau apa. Cuma gue stag. 

 Belom dapet inspirasi. Ditambah rekaman suara beliau juga ada di hp temn gue. Mau gue kirim ke hape gue, hape gue gak mendukung. Hape temen gue C5 sedangkan gue masih yang monokrom ohhhhh. Oke! Cukup gue mempermalukan diri gue. 

Intinya, jangan pernah deh bikin karangan yang narasumbernya bakal baca tulisann lu kecuali mereka yang berpengalaman dan memang bercita-cita jadi jurnalis yang handal kaya temen gue yang dapet juara 3 karya tulis terbaik. Dan jangan tanya deh kenapa sampe sekarang gue bisa ngeblog panjang-panjang  tapi belom bisa nyelesaiin cangkir gue. Yang jelas walaupun gue bisa ngeblog panjang begini. Belom tentu gue bisa bikin cangkir eh karangan feature gue. THE END.

Gimana koment ceritanya? Ga jelas ya? Ya udah apapun itu jawabannya, setidaknya gue udah berusaha menuliskan posting perdana gue. Yah ini semua karena gue terjangkit virus si Joni (christrrel.blogspot.com). So, wait for the next amazing story!!! enjoy Reading!